Latar Belakang Perusahaan

Selama 5 (lima) tahun terakhir nilai transaksi saham dan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia mengalami kenaikan dengan tingkat pertumbuhan gabungan tahunan (CAGR) sebesar 4% dan 11%. Adapun tabel pertumbuhan nilai transaksi saham dan kapitalisasi pasar adalah sebagai berikut;

Transaksi Bursa Saham Indonesia

*Rasio Turnover = Nilai transaksi/ Kapitalisasi Pasar)

Meskipun dari sisi pertumbuhan Bursa Efek Indonesia terus mengalami pertumbuhan, namun baik rasio perputaran maupun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia masih di posisi belasan dan dibawah Thailand sebagaimana terlihat pada tabel di bawah:

Kapitalisasi Pasar Bursa Efek Indonesia dibandingkan regional di tahun 2016

Rasio Perputaran Bursa Efek Indonesia dibandingkan regional di tahun 2016

Sumber: WFE, Diolah Oleh PEI

Dalam rangka meningkatkan likuiditas transaksi bursa, Self-Regulatory Organizations (SRO) memutuskan untuk membentuk perusahaan pendanaan Efek di Indonesia. Berdasarkan data World Federation of Exchange atas kondisi pasar modal dunia pada tahun 2016, terdapat korelasi positif antara keberadaan perusahaan pendanaan efek dengan nilai transaksi dan kapitalisasi pasar dari suatu negara.

Gambar di atas menunjukkan bahwa negara-negara yang memiliki perusahaan pendanaan Efek memiliki kapitalisasi dan rasio perputaran pasar domestik yang lebih besar jika dibandingkan dengan negara-negara yang belum memiliki perusahaan pendanaan Efek. Hadirnya lembaga-lembaga pendanaan Efek di pasar modal pada sejumlah negara maju di dunia membuktikan bahwa lembaga-lembaga tersebut mampu meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar modal.

Berikut sejumlah negara di Asia yang memiliki perusahaan pendanaan Efek:

Sumber: WFE; Diolah oleh PEI

Pertumbuhan pada berbagai aspek di Bursa Efek Indonesia menuntut peningkatan kapasitas di Anggota Bursa (AB). Peningkatan kapasitas yang dipengaruhi oleh sumber pendanaan sebagai faktor utama agar peningkatan transaksi yang diharapkan SRO tersebut dapat terealisasi. Saat ini alternatif sumber pendanaan AB sangatlah terbatas mengingat perbankan tidak dapat menerima efek sebagai jaminan.

Kehadiran PEI merupakan solusi dari adanya keterbatasan fasilitas pendanaan yang dapat diperoleh AB dari sektor perbankan atau sumber lainnya untuk melakukan pembiayaan transaksi Efek. Selain itu, belum ada lembaga khusus yang memfasilitasi pendanaan transaksi Efek di pasar modal Indonesia.

PEI didirikan berdasarkan Akta Pendirian No 15 pada 27 Desember 2016 yang dimiliki oleh SRO, yaitu PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). PEI merupakan bagian dari Masterplan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2015-2019 untuk peningkatan efisiensi dan stabilitas di Sektor Jasa Keuangan (SJK), bagian dari program Masterplan BEI 2016-2020 dan juga merupakan salah satu program dalam Strategi Bisnis Perusahaan KPEI 2016-2020.